Assalammualaikum
Warrahmatullahi Wabarakatuh,
Hari ini,
hari Jum’at, 25 Maret 2016. Saat ini pukul 23:20 Hong Kong (tai Wo)
Hari ini
teringat Almarhumah Kakakku Virna Tania, beliau wafat pada tahun 2013 kalau
tidak salah pada bulan Juni. Ketika itu aku sudah berada di Hong Kong untuk
bekerja belum genap enam bulan, ya.. aku ingat betul. Saat itu belum genap enam
bulan di sini, potongan gaji saja belum selesai.
Tidak ada
firasat atau feeling sebelum wafatnya beliau, hanya saja ketika hendak
berangkat ke aku mwrasakan bahwa pertemuan kami di asrama PJTKI adalah
pertemuan terakhir kami. Malam itu sebelum kebrangkatanku, beliau datang ke
sana bersama Mama, tetapi saat itu aku belum kembali dari penataran untuk calon
TKI yang akan berangkat. Malam harinya Mama datang kembali ke asrama bersama keponakan
pertamaku Sheva di tengah gerimis. Perasaan terharu karena kami tidak akan
bertemu selama dua tahun.
Niat
keberangkatanku hanya dua, menikah dan bekerja untuk membantu Mama, meringankan
bebannya. Beban yang Ia tanggung sepenggal Almarhum Bapak sejak usiaku 8 tahun.
Aku tidak banyak memiliki kenangan dengan Almarhum Bapak. Mungkin karena usiaku
yang masih terbilang muda, atau mungkin karena memang hubungan kami tidak
terlalu dekat. Tetapi, seingatku Almarhum Bapak adalah seorang pekerja keras.
Mama sangat mencintainya. Bahkan aku sudah tidak ingat lagi seperti apa
suaranya, gelak tawanya, aku sudah melepukannya.
Janjiku
kepada Almarhumah kakak adalah membantunya memberi modal usaha warung makan,
dan aku memang bertekad untuk itu. Karena beliau senang sekali memasak dan
mencoba resep baru. Beliau seperti Mama, pintar masak dan masakannya pun lezat.
Kami
memiliki hubungan yang cukup dekat, beliau selalu berbagi mengenai apapun yang
Ia rasakan, apa yang ada di dalam pikirannya, bahkan tak segan beliau
menitikkan air mata di hadapanku karena beliau menahan rasa marah dan kecewanya.
Ia adalah
kakaku tersayang, yang gemar sekali meringankan beban Mama, mengurus
keponakannya, menyenangkan hati setiap orang.
Dan tiba
saat sakitnya kian parah, mungkin karena kami datang dari keluarga biasa yang
mengaggap sesuatu bukan hal yang serius. Semakin hari badannya semakin kurus,
aku tahu beliau menahan sakit. Tetapi tidak pernah mengeluhkan sakitnya.
Sampai saat
ini pun aku selalu mengenangnya selalu mengingat suaranya ketika menjawab
teleponku.
Setelah
sepenggalnya, aku memahami bahwa betapa aku tidak peka atau bahkan tidak
perduli dengan orang-orang di sekitar. Betapa berharganya momen kebersamaan. Dan
itu tidak ternilai harganya. Menghargai mereka yang masih hidup di sekitar
kita, menghargai perasaan mereka walaupun itu hal yang amat kecil.
Jangan pernah
jauh dari keluarga, bersyukurlah kita masih punya mereka. Tempat curahan rasa,
tempat kita mengistirahatkan tubuh dan perasaan kita. Bersyukurlah kepada Allah
atas apa yang kita miliki saat ini. Itu adalah harta paling berharga.

